Rabu, 31 Agustus 2011

Melongok Hindu Etnis Madura di Gresik - Jawa Timur

Reog, kesenian khas Madura
Madura namun Hindu. Inilah yang membuat penduduk Dusun Bongso Wetan menjadi unik. Selama ini, mayoritas di antara kita mengasosiasikan suku Madura dengan agama Islam. Kita bahkan seolah yakin bahwa suku Madura takkan ada yang beragama selain Islam. Namun di dusun yang berhimpitan dengan Kelurahan Made, Kecamatan Sambikerep, Surabaya ini, terdapat 223 kepala keluarga (KK) atau sekitar 800-an jiwa etnis Madura beragama Hindu. Mereka juga mempunyai pura besar di kampungnya.

Rabu (25/3) malam, Dusun Bongso Wetan berpesta. Ratusan orang memadati Pura Kertha Bumi. Yang laki-laki gagah dengan udengnya. Udeng yang dipakai bukan motif Madura tapi Bali. Sebagian berbusana lengkap termasuk kemeja dan sarung khas persembahyangan. Sebagian lagi memang berudeng, namun bawahannya hanya kaos atau sarung biasa yang lazimnya dipakai umat Muslim untuk salat.

Sementara, para perempuan tampil dengan aneka baju terbaru mereka, mayoritas memilih kain dan kebaya. Yang pasti, baik laki-laki maupun perempuan mengikatkan selendang di pinggangnya. Bau parfum jamaah berbaur dengan wangi dupa dan bunga.

Magrib baru saja datang. Enam ogoh-ogoh yang paginya diikutsertakan dalam tawur agung di Tugu Pahlawan, Surabaya, petang itu sudah berdiri di halaman pura. Ogoh-ogoh adalah patung aneka rupa, namun kesemuanya mewakili figur-figur makhluk halus jahat.

“Ogoh-ogoh ngelambangagin kejahatan i dunnyah se koduh imusnaagin. Karna ruah ogoh-ogoh iobber neng akhir upacara tawur agung (Ogoh-ogoh melambangkan kejahatan di dunia yang harus kita musnahkan, karena itu di akhir tawur agung mereka dibakar),“ kata Saptono (52) dalam bahasa Madura yang lancar. Ayah empat anak ini adalah salah satu pemangku (modin Hindu) di Dusun Bongso Wetan.

Di bagian dalam pura, umat melakukan persembahyangan. Setelah memercikkan tirta suci di gerbang dalam pura, mereka mengikuti jemaah lain yang lebih dulu melantunkan puji-pujian dan doa.

Tak lama setelah isya, pawai ogoh-ogoh dimulai. Saptono berdiri paling depan dengan lima pemangku (modin Hindu) lainnya. Setelah memercikkan tirta suci ke enam ogoh-ogoh, mereka membunyikan genta tanda dimulainya pawai ogoh-ogoh.

Di belakang para pemangku, ibu-ibu dalam balutan baju persembahyangan menyunggi sesaji. Lebih ke belakang, barisan pemuda membawa panji-panji diikuti barisan anak-anak pembawa obor, lalu para pemuda yang memanggul keenam ogoh-ogoh. Terakhir, kru pembawa gamelan dan mobil pengangkut sound system-nya. Ratusan orang ikut dalam pawai ini. Sebagian berasal dari luar Bongso Wetan.

klik>sambungan<klik

Tidak ada komentar:

Posting Komentar