Senin, 12 September 2011

Batara Kala, Siapakah Beliau?

Wujud Kepala Batara Kala di Candi Jago
Pernah menonton acara komedi berjudul Opera van Java? Kalau pernah, mungkin anda pernah menonton salah satu seri-nya yang memainkan peran tokoh Batara Kala. Nah, siapakah Batara Kala?

Dalam ajaran agama Hindu, Kālá (Devanagari: कल) adalah putera Dewa Siwa yang bergelar sebagai dewa penguasa waktu (kata kala berasal dari bahasa Sansekerta yang artinya waktu). Dewa Kala sering disimbolkan sebagai rakshasa yang berwajah menyeramkan, hampir tidak menyerupai seorang Dewa. Dalam filsafat Hindu, Kala merupakan simbol bahwa siapa pun tidak dapat melawan hukum karma. Apabila sudah waktunya seseorang meninggalkan dunia fana, maka pada saat itu pula Kala akan datang menjemputnya. Jika ada yang bersikeras ingin hidup lama dengan kemauan sendiri, maka ia akan dibinasakan oleh Kala. Maka dari itu, wajah Kala sangat menakutkan, bersifat memaksa semua orang agar tunduk pada batas usianya. Kālá selain berarti waktu juga berarti hitam, bentuk feminimnya adalah Kālī. Dalam satuan waktu tradisional Hindu, satu kala adalah 144 detik.
Wujud Tokoh Batara Kala dalam Pewayang Jawa
 http://id.wikipedia.org/wiki/Batara_Kala

Minggu, 11 September 2011

(Jawa) DANDANGGULA by Adi Suripto

DANDANGGULA
Tembang :

Jroning nampa pepesthen puniki
Wajibira mung nuhoni dharma
Apan wus dadi kodrate
Lelaku jro lumaku
Titi tata tatag ing batin
Nggayuh yuning bebrayan
lahir trusing kalbu
Mula lumaku makarya
Antepira sepi pamrih lahir bathin
Makarya tan akarya


[Dharma Kinidung - Karya Adi Suripto]

Arti :

Di dalam kita menjalani kehidupan ini, sesuai dengan kodratnya, kita hanya “nuhoni dharma”. Melaksanakan kewajiban sesuai kodrat kita sebagai manusia, karena itu dalam setiap perbuatan yang dilakukan, kita harus menyadari untuk bekerja dan terus bekerja, dan semuanya itu tanpa pamrih.  Dapat diumpamakan sebaga “makarya tan akarya”, artinya kita berbuat sesuatu, tetapi tidak merasa membuat sesuatu yang kita harapkan hasilnya. Dalam ungkapan bahasa jawa biasa disebut “sepi pamrih rame gawe”.

Sakehing kan dumadi makardi
Lir Hyang Widhi kan tansah makarya
Nguribi jagad tan leren
Surya, candra lan bayu
Bhumi tirta kalawan agni
Paparing panguripan
Mring pamrih wus mungkur
Anane nuhoni dharma
Iku dadya "sastra cetha" tanpa tulis
Nulat lakuning alam


Semua yang ada ini bekerja
Bahkan Tuhan pun bekerja
Menghidupi dunia ini tanpa henti Matahari, bulan, angin,
Bumi, air dan api semua bekerja demi kelangsungan hidup, dan tanpa pamrih.
Dasarnya hanyalah merasa wajib. Alam adalah "ilmu nyata"
Kita wajib meniru dharmanya


sumber: http://www.parisada.org/index.php?option=com_content&task=view&id=24&Itemid=29

Dari makna yang tersirat dari tembang tersebut, nampak jelas sekali bahwa pengejawantahan falsafah Jawa sebagaimana ditunjukkan umat Hindu di Jawa merupakan refleksi atas pemahaman dan pengalaman terhadap apa yang disebutkan sebagai "sastra cetha tanpa tulis" (ilmu nyata).

Ida Pedanda Gede Made Gunung

Sosok Ida Pedanda Gede Made Gunung belakangan banyak diperbincangkan umat Hindu. Tokoh Hindu yang satu ini dinilai banyak kalangan memiliki pemikiran yang jauh kedepan, trampil dalam "menerjemahkan" tatwa agama dengan bahasa yang jelas dan lugas serta memiliki rasa humor yang tinggi. Pedanda yang dilahirkan di Gria Gede Kemenuh Purnawati ini, seolah - olah mengubah citra Pedanda (Pendeta Hindu) dari sekedar muput karya (memimpin pelaksanaan upacara), menjadi pemberi Dharma Wacana, disamping tentunya juga muput karya. Tidak mengherankan jika wajah beliau acapkali muncul di berbagai media, baik media elektronik maupun media cetak,  untuk memberikan dharma wacana (wejangan suci) kepada umat Hindu. Beliau memberikan dharma wacana tidak hanya di Bali, tetapi juga di luar bali seperti Jakarta hingga ke Kalimantan. Beliau juga sempat matirta yatra ke India bersama Dr.Somvir.

Setelah menamatkan SD (1965) di Blahbatuh dan SMPN (1968) di Gianyar, beliau lalu melanjutkan pendidikan ke Taman Guru Atas (1971) di Sukawati. Beliau kemudian bekerja sebagai Petugas Lapangan Keluarga Berencana (PLKB) Gianyar (1972 - 1974), lalu menjadi guru SD di mawang Ubud (1975 - 1983) dan selajutnya pindah ke SD 7 Saba (1987 - 1994). Tahun 1992 beliau sempat mendapat peringkat sebagai guru teladan Kecamatan Blahbatuh. Disela -sela kesibukan sebagai guru, beliau melanjutkan pendidikan di Institut Hindu Dharma (IHD) hingga memperoleh gelar Sarjana Muda pada tahun 1986. Beliau Madiksa atau menjadi pedanda pada tahun 1994 dan sejak tahun 2002 sampai sekarang beliau menjadi dosen luar biasa di almamaternya di Fakultas Usada Universitas Hindu Indonesia, sebutan IHD sekarang.

Selain itu beliau juga aktif dalam kegiatan organisasi sejak akhir tahun 1960-an. Mula - mula di bidang olah raga, menjadi pemain voli seleksi PON Bali, menjadi pelatih karate (sabuk hitam), dan kemudian organisasi keagamaan. Mula - mula beliau aktif di Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) kecamatan Blahbatuh, PHDI Gianyar (1989-1994) PHDI Bali (1994-2001) dan PHDI Bali versi Campuhan (2001-2006).

Catatan Sebelum Madiksa
Dua tahun sebelum madiksa (menjadi pendeta), beliau sudah mulai membenahi pola pikir, perkataan dan perbuatan sebagai persiapan memasuki dunia kependetaan. Suatu hari, kira-kira 4 bulan sebelum madiksa, beliau pergi mengunjungi Rumah Sakit Sanglah untuk melihat mereka yang  dirawat disana, beliau ingin merasakan bagaimana kondisi dan penderitaan mereka yang sedang sakit , beliau juga berjalan mengunjungi UGD, mengunjung bangsal - bangsal yang lain hingga berakhir di depan kamar mayat. Setelah itu beliau mengunjungi Rumah Sakit Wangaya untuk tujuan yang sama. Beliau juga mengunjungi Super Market, sekedar untuk melihat bagaimana anak - anak bermain dan menikmati santapan. Disana beliau sempat diikuti oleh satpam, yang barangkali merasa agak janggal karena melihat beliau yang berjenggot, berambut panjang dan menggunakan destar datang ke tempat seperti itu dan seperti dengan tujuan yang tidak jelas. Setelah itu beliau mengunjungi super market yang lain yang baru saja di buka. Beliau tidak mengunjungi diskotik atau tempat hiburan yang lain karena untuk mengunjungi tempat seperti itu harus membayar terlebih dahulu. Setelah itu beliau melanjutkan perjalanan ke pasar burung, mendengarkan kicauan burung dan melihat berbagai jenis peliharaan yang dijual disana. Disamping itu beliau juga pernah ikut menjadi sopir truk mengikut temany beliau yang menjadi sopir truk untuk mengirim pasir dari Klungkung ke daerah lain di Bali. Beliau melakukan itu untuk mengetahui bagaimana rasanya menjadi sopir truk. Setelah beliau merasa sudah cukup, mulailah beliau menyusun program tangkil (menemui) para sulinggih (pendeta) se-Bali. Dalam buku harian beliau, tercatat beliau pernah tangkil kepada 325 sulinggih.

Untuk apa beliau melakukan semua itu? Beliau mengatakan semua itu sebagai persiapan mental untuk memasuki dunia kependetaan. Seperti merintis sebuah bangunan, sebelum memulai membangun seseorang perlu melihat berbagai model bangunan yang ada sebagai perbandingan dalam merencanakan bangunan yang baru. Unsur-unsur yang cocok ditiru, yang kurang cocok dipelajari dan seterusnya. Dan ternyata semua yang beliau dapat dari pengalaman tersebut sangat mendukung tugas-tugas yang harus beliau emban sekarang. Semua babonnya dari sana. sebuah contoh sederhana, begitu menjadi Pedanda, banyak orang yang tangkil dan semuanya bermacam-macam. Ada yang halus dan adakalanya agak emosional. Semua harus dihadapi dengan sabar. Tidak mungkin dihadapi dengan kekerasan dan main pukul seperti sewaktu beliau menjadi pelatih karate dulu. Kalupun sekarang beliau memukul, tidak menggunakan pukulan fisik tetapi pukulan rohani. Tingkat kerohanian akan berjalan baik apabila didukung oleh pengalaman, mental dan fisk yang kuat.

Beliau mengatakan bahwa tujuan utama beliau untuk menjadi Pedanda bukat semata hanya untuk muput yadnya, melainka senantias meningkatkan kualitas kerohanian atau Dharma Agama. Muput yadnya baru dilaksanakan kalu ada orang yang ngaturang, dalam arti kalau ada yang datang diterima kalu tidak ada tidak apa-apa. Seperti air pancuran, ada atau tidak orang yang datang untuk mengambil air, pancurannya tetap akan mengalir.

http://idapedandagunung.com/content/view/12/28/

Romo Pandita Rsi Gunawan Patrakusuma Keniten (wafat 2004)

Pandita asal Jawa yang dilahirkan 64 tahun lalu itu merupakan pandita yang tak kenal lelah dalam membina umat Hindu Jawa, khususnya Jawa Tengah. Abhiseka “Patrakusuma Keniten” sebagai nama diksa, karena beliau adalah penerus leluhur beliau dari pasraman keluarga besar Patrakusuma Keniten (pada jaman Kediri); yang merupakan keturunan raja Kediri, Prabu Jayabaya. Ketika belum melaksanakan dwijati, beliau dikenal dengan nama Romo Munaji yang malang melintang di Jawa. Sang Romo memang mengagumkan, tak pernah jauh dari umatnya, selalu hadir dalam pertemuan, terutama dalam setiap forum-forum pemuda Hindu.

Meninggal Di Jakarta
Senin Pon Wuku Ugu, 26 April 2004, pukul 23.13, Romo Pandita Rsi Gunawan Patrakusuma Keniten telah meninggalkan kita untuk selamanya. Beliau wafat setelah dirawat selama kurang lebih 3 bulan di RS Dharmais, Jakarta. Tahun sebelumnya, Pandita Istri telah lebih dahulu meninggalkan kita selamanya, dan tahun ini kembali umat Hindu Nusantara kehilangan putra terbaiknya, dengan meninggalkan keteladanan dan semangat juang luar biasa.

Dengan kerjasama berbagai tokoh dan masyarakat Hindu di Jakarta, upacara perabuan dilaksanakan pada Selasa Wage, 27 April 2004 di Krematorium Cilincing, Jakarta Utara. Dengan iringan musik gamelan angklung dan kidung pralina Jawa karya Adi Suripto, hadir ratusan umat Hindu berbagai etnis dari wilayah-wilayah se- Jabotabek mengiringi jalannya upacara itu.

Pada saat atman telah meninggalkan jasad-pun, Romo masih memberikan kejutan dan kesan tak terlupakan, karena pada saat jasad Romo dikremasi, tulang diatas mata ketiga tertulis jelas huruf Jawa Kuno, tak jauh dari dugaan, sebagai bukti pemuja Tuhan yang tekun, sehingga berkenan memberikan huruf-huruf sucinya, yang tak terhapuskan oleh Sang Agni.

http://hindunusantara.blogspot.com/

Sejarah Kerajaan Sunda

Kerajaan Sunda terletak di daerah Jawa Barat sekarang. Tak dapat dipastikan dimana pusat kerajaan ini sesungguhnya. Berdasarkan sumber sejarah berupa prasasti dan naskah-naskah berbahasa Sunda Kuno dikatakan bahwa pusat kerajaan Sunda telah mengalami beberapa perpindahan. Menurut Kitab Carita Parahyangan, Ibukota kerajaan Sunda mula-mula di Galuh, kemudian menurut Prasasti Sanghyang Tapak yang ditemukan di tepi sungai Cicatih, Cibadak Sukabumi, Isi dari prasasti itu tentang pembuatan daerah terlarang di sungai itu yang ditandai dengan batu besar di bagian hulu dan hilirnya. Oleh Raja Sri Jayabhupati penguasa kerajaan Sunda. Di daerah larangan itu orang tidak boleh menangkap ikan dan hewan yang hidup di sungai itu. tujuannya untuk menjaga kelestarian lingkungan (agar ikan dan lain-lainnya tidak punah).

Kerajaan Sunda beribu kota di Parahyangan Sunda. Sementara itu menurut prasasti Astana Gede (Kawali – Ciamis) ibu kota kerajaan Sunda berada di Pakwan Pajajaran. Mengenai perpindahan kerajaan ini tak diketahui alasannya. Akan tetapi, hal-hal yang bersifat ekonomi, keamanan, politik, atau bencana alam lazim menjadi alasan perpindahan pusat ibu kota suatu kerajaan.

Kerajaan Sunda menguasai daerah Jawa Barat untuk waktu yang lama, diantara rajanya, yang terkenal adalah Jaya Bhupati dan Sri Baduga Maharaja.

Jayabhupati
Sebenarnya nama Sunda pernah disebut didalam prasasti yang temukan di desa Kebon Kopi Bogor. Prasasti itu berangka tahun 854. Prasasti itu ditulis dengan bahasa Melayu Kuno, isinya tentang seorang Rakrayan Juru Pengambat yang memulihkan raja Sunda. Sumber kesusastraan yang sampai kepada kita adalah Carita Parahyangan (dari akhir abad ke-16) kitab lain yang juga menyebut kerajaan Sunda adalah Kitab “Siksa Kandang Karesia” (1518), berita Cina dari masa Dinasti Ming menyebut adanya kerajaan Sunda.

Didalam kita Carita Parahyangan disebutkan bahwa kerajaan itu memerintah seorang raja bernama Sanjaya. Tokoh itu dikenal juga dalam prasasti Canggal dari Jawa Tengah. Dalam kitab Carita Parahyangan disebutkan bahwa Raja Sanjaya menggantikan raja Sena yang berkuasa di Kerajaan Galuh. Kekuasaan raja Sena kemudian direbut oleh Rahyang Purbasora, Saudara seibu raja Sena. Sena sendiri menyingkir ke gunung Merapi bersama keluarganya. Setelah dewasa, Sanjaya berkuasa di Jawa Tengah. Ia berhasil merebut kembali kerajaan Galuh dari tangan Purbasora. Kerajaan kemudian berganti nama menjadi kerajaan Sunda.
Setelah masa pemerintahan JayaBhupati, pada tahun 1350 yang menjadi raja di kerajaan Sunda adalah Prabu Maharaja. Ia mempunyai seorang putri bernama Dyah Pitaloka.

Prabu Maharaja berperang melawan tentara Majapahit yang dipimpin Gajah Mada di daerah Bubat pada tahun 1354. dalam pertempuran itu raja Sunda bersama-sama para pengiringnya terbunuh. Kematian Raja Sunda dan pengiringnya membuat raja Majapahit yaitu Hayam Wuruk, marah besar kepada Gajah Mada, lalu Gajah Mada dipecat dari jabatannya.

Sri Baduga Majaraja
Ia adalah putra dari Ningrat Kancana. Sri Baduga merupakan raja yang besar. Ia membuat sebuah telaga yang diberi nama Telaga Rena Mahawijaya. Ia memerintahkan membangun parit di sekeliling ibukota kerajaannya yang bernama Pakwan Pajajaran. Raja Sri Baduga memerintah berdasarkan kitab hukum yang berlaku saat itu sehingga kerajaan menjadi aman dan tenteram. Keterangan tentang Raja Sri Baduga dapat kita jumpai dalam prasasti Batutulis yang ditemukan di Bogor.

http://unsilster.com/2010/04/cerita-sejarah-kerajaan-sunda/

Pemujaan Bertahap


Yanti devavrataa devan
pitrn yanti pitrvrataah
bhutaaani yanti bhutejyaa
yanti madyaajino''pi maam.
(Bhagawad Gita IX. 25).

Artinya:
Penyembahan Deva-Deva akan sampai pada dewa, penyembahan leluhur akan sampai pada leluhur, penyembahan Bhuta akan sampai pada Bhuta. Mereka yang menyembah-Ku akan sampai pada-Ku.

SLOKA Bhagawad Gita ini sering menimbulkan salah pengertian. Seakan-akan umat Hindu, hanya menyembah Bhuta, atau menyembah leluhur, menyembah Dewa saja, atau menyembah Tuhan saja. Sistem penyembahan yang terpisah-pisah demikian itu tidak ada dalam pengamalan agama Hindu baik dalam tradisi Hindu di India maupun dalam tradisi Hindu di Indonesia.

Ini artinya dalam sistem pemujaan Hindu antara menyembah Bhuta, Pitra, Deva dan Brahmana (Tuhan) bukan merupakan sesuatu yang dikotomis atau sesuatu yang bertentangan. Hal itu tidak bermaksud kalau menyembah Tuhan bukan berarti dilarang menyembah Bhuta, Pitra dan Deva. Bhuta dalam pengertian ini bukanlah berarti setan, jin atau roh-roh jahat. Bhuta itu adalah alam ciptaan Tuhan yang dibangun dengan lima unsur Bhuta. Lima unsur Bhuta itu disebut Panca Maha Bhuta (pertiwi, apah, teja, bayu, dan akasa). Melakukan komunikasi rohani dengan semuanya itu digunakan istilah yadnya.

Yadnya kepada Bhuta, Pitra, Deva dan Tuhan itu salah satu wujudnya dalam bentuk bhakti, atau puja. Istilah bhakti dan puja itu dalam Bahasa Jawa Kuna diterjemahkan menjadi kata Sembah. Kata sembah dalam kamus Bahasa Jawa Kuna memiliki lima arti atau pengertian. Sembah berarti menyayangi atau mengasihi, menghormati, memohon, menyerahkan diri dan menyatukan diri.

Menyembah bhuta tentunya tidak seperti menyembah Tuhan dengan menyerahkan diri secara total. Menyembah bhuta artinya menyayangi atau mengasihi bhuta atau alam lingkungan dalam wujud bhuta yadnya. Menyembah bhuta, bukan berarti menyerahkan diri pada bhuta seperti menyembah Tuhan. Dalam Sarasamuscaya 135 disebutkan untuk menegakkan tujuan hidup mencapai dharma, artha, kama dan moksha terlebih dahulu harus melakukan bhuta hita. Bhuta hita artinya mensejahterakan alam. Manusia bisa hidup dari yadnya bhuta atau alam. Karena itu manusia wajib melakukan yadnya pada Bhuta. Karena itu dalam Lontar Panca Sembah dinyatakan menyembah Bhuta dengan mencakupkan tangan di pusar, bukan di atas ubun-ubun seperti menyembah Tuhan. Sikap menyembah ini melambangkan sikap untuk membangun kasih sayang pada alam lingkungan, yang disebut panca maha bhuta. Demikian juga menyembah leluhur (dewa pitara).

Menyembah leluhur yang telah suci dinyatakan dengan tegas dalam kitab suci Rgveda dan juga kitab-kitab Sastra Veda lainnya. Dalam kitab Rgveda ada tidak kurang dari 12 mantra yang menyatakan tentang pemujaan Leluhur. Hal itu dinyatakan dalam kitab Rgveda Mandala X, Sukta 15 dari mantra 1 sampai dengan Mantra 12.

Apalagi dalam kitab Manwa Dharmasastra banyak sekali sloka-sloka yang mengajarkan tentang pemujaan leluhur. Pemujaan leluhur banyak dinyatakan dalam Adyaya III kitab Manawa Dharmasastra. Dalam lontar-lontar di Bali sistem pemujaan leluhur atau Dewa Pitara banyak sekali kita jumpai petunjuk tehnisnya. Karena itu tidaklah benar ada sementara orang yang beragama Hindu dari Sampradaya tertentu yang menyatakan Hindu atau kitab Suci Weda tidak mengenal bahkan dikatakan tidak membenarkan adanya pemujaan leluhur. Karena sangat jelas petunjuknya terdapat dalam kitab suci Weda dan kitab-kitab Sastranya.
Di samping itu, pemujaan leluhur itu sudah sangat mentradisi berabad-abad dalam tradisi Hindu di seluruh dunia. Demikian pula tentang pemujaan Deva sinar suci atau manifestasi Tuhan. Dalam kitab Manawa Dharmasastra III.205 dengan tegas dinyatakan bahwa pemujaan kepada Dewa sinar suci Tuhan dilakukan setelah pemujaan kepada leluhur (dewa Pitara). Jadi semua sistem pemujaan itu adalah pemujaan yang bertahap menuju pemujaan yang tertinggi yaitu pemujaan kepada Tuhan Yang Maha Esa dan yang Mahakuasa.

Sistem pemujaan bertahap ini tentunya berlaku untuk umat Hindu secara umum. Kalau ada orang-orang suci seperti Maha Resi yang tingkatannya sudah tinggi dapat saja melakukan pemujaan hanya kepada Tuhan. Beragama itu merupakan privasi seseorang, tentunya dalam pelaksanaannya sangat tergantung pada tingkatan pemahamannya pada agama yang dianutnya. Tetapi janganlah menyatakan dalam Weda tidak ada petunjuk tentang pemujaan leluhur.

Balipost 21 Februari 2001

Sabtu, 03 September 2011

Pura Parahyangan Agung Jagatkarttya Taman Sari Gunung Salak, Simbol Kerajaan Padjajaran (Jawa Barat)

Sampurasun,...
Om awignam astu namas sidam
Bhakti hamba pada karuhun
Leluhur ditanah Sunda
Yang menyatukan kami sejagat
Dumogi rahayu parahyangan Gunung Salak....
PROFIL 
Nama: Pura Parahyangan Agung Jagatkarttya Taman Sari Gunung Salak
Lokasi: Gunung Salak, Kampung Warung Loak, Desa Taman Sari, Kel, Ciapus, Bogor - JAWA BARAT
Status: Pura umum

Gunung Salak memang sulit untuk didaki. Itu tidak lepas dari sisi-sisi mistis yang menyelimutinya. Dan, ada sisi lain yang membuat gunung ini semakin disegani. Prabu Siliwangi, Raja Pajajaran yang paling masyhur, pernah berada di gunung itu. Buktinya, sebuah tempat ibadah berdiri setelah sang prabu menurunkan wangsitnya.

Sejarah Hindu di tanah Sunda
Belum ada literatur yang bisa memastikan kapan agama Hindu masuk ke wilayah Jawa Barat. Tapi setidaknya telah ditemukan sejumlah bukti peninggalan Kerajaan Hindu di Jawa Barat yakni Tarumanegara dengan rajanya yang terkenal Purnawarman.
Gerbang masuk utama Pura
Sebagian peninggalan itu diantaranya kini tersimpan di Museum Nasional Jakarta. Jejak kaki sang raja bahkan tercetak pada sebuah batu yang lalu dikenal sebagai prasasti Ciaruteun.
Pura yang menyatu dengan alam.
Jejak kaki Raja Purnawarman ini diibaratkan seperti telapak kaki Dewa Wisnu, salah satu dewa umat Hindu. Di Museum Nasional juga terdapat prasasti Tugu. Prasasti Hindu tertua yang ditemukan di Pulau Jawa.
Dalam prasasti Tugu yang diperkirakan berasal dari tahun 450 Masehi ini misalnya, penunjukkan Prabu Purnawarman dari Tarumanegara pernah memerintahkan penggalian saluran terusan sungai dari Bekasi ke Pelabuhan Sunda Kelapa untuk sistem pengairan dan membuka jalur pelayaran ke pedalaman.
Pada akhir abad ke VII, Kerajaan Tarumanegara diduga hancur takluk pada Kerajaan Sri Wijaya. Baru pada awal abad ke 14 hadir kembali Kerajaan Hindu Sunda yang cukup kuat dibawah kepemimpinan Prabu Siliwangi. Yakni Kerajaan Padjadjaran dengan ibukotanya terletak disekitar Pakuan yang kini dikenal sebagai kota Bogor.

Tempat Prabu Siliwangi Menghilang
Candi untuk menghormati Prabu Siliwangi beserta para prajuritnya yang konon menjelma menjadi Macan yang menjaga tanah Sunda.
Konon, dulu sering ada hal-hal gaib yang terjadi di wilayah ini yang berhubungan dengan Prabu Siliwangi, raja masyur dari Kerajaan Hindu terakhir di Jawa Barat. Ada yang percaya di tempat Pura ini berdiri adalah tempat Prabu Siliwangi menghilang bersama para prajuritnya. Hingga akhirnya sebelum membangun pura, umat Hindu lalu memutuskan untuk membangun terlebih dulu candi dengan patung macan berwarna putih dan hitam. Sebagai penghormatan terhadap Kerajaan Padjadjaran, Kerajaan Hindu terakhir di tanah Parahyangan.

Wangsit Prabu Siliwangi
Lukisan yang menggambarkan sosok Prabu Siliwangi.
"Semua keturunan kalian akan aku kunjungi, tetapi hanya pada waktu tertentu saja dan saat diperlukan. Aku akan datang lagi, menolong yang perlu dan membantu yang susah, tapi hanya mereka yang baik budi pekertinya. Apabila aku datang tak akan terlihat; apabila aku berbicara tak akan terdengar. Memang aku akan datang tapi hanya untuk mereka yang baik hatinya, mereka yang mengerti dan satu tujuan, yang mengerti tentang harum sejati juga mempunyai jalan pikiran yang lurus dan bagus tingkah lakunya. Ketika aku datang, tidak berupa dan bersuara tapi memberi ciri dengan wewangian. Semenjak hari ini, Pajajaran hilang dari alam nyata. Hilang kotanya, hilang negaranya. Pajajaran tidak akan meninggalkan jejak, selain nama untuk mereka yang berusaha menelusuri. Sebab bukti yang ada akan banyak yang menolak! Tapi suatu saat akan ada yang mencoba, supaya yang menghilang (ngahyang) bisa ditemukan kembali. Bisa saja, hanya menelusurinya harus memakai dasar (batin yang kuat). Namun sayang yang menelusurinya banyak yang sok pintar dan sombong bahkan berlebihan bicaranya."


dari berbagai sumber