Oleh : I Gede Manik, S.Ag (Badung)
Umat Hindu dari jaman dahulu sampai sekarang bahkan sampai nanti dalam menghubungkan diri dengan Ida Sanghyang Widi Wasa memakai symbol-simbol. Dalam Agama Hindu simbol dikenal dengan kata niasa yaitu sebagai pengganti yang sebenarnya. Bukan agama saja yang memakai simbol, bangsa pun memakai simbol-simbol. Bentuk dan jénis simbol yang berbeda namun mempunyai fungsi yang sama.
Dalam upakara terdiri dari banyak macam material yang digunakan sebagai simbol yang penuh memiliki makna yang tinggi, dimana makna tersebut menyangkut isi alam (makrokosmos) dan isi permohonan manusia kehadapan Ida Sanghyang Widi Wasa. Untuk mencapai keseimbangan dari segala aspek kehidupan seperti Tri Hita Karana.
Masyarakat di Bali sudah tidak asing lagi dengan penjor. Masyarakat mengenal dua (2) jenis penjor, antara lain Penjor Sakral dan Penjor hiasan. Merupakan bagian dari upacara keagamaan, misalnya upacara galungan, piodalan di pura-pura. Sedangkan pepenjoran atau penjor hiasan biasanya dipergunakan saat adanya lomba desa, pesta seni dll. Pepenjoran atau penjor hiasan tidak berisi sanggah penjor, tidak adanya pala bungkah/pala gantung, porosan dll. Penjor sakral yang dipergunakan pada waktu hari raya Galungan berisi sanggah penjor, adanya pala bungkah dan pala gantung, sampiyan, lamak, jajan dll.
Definisi Penjor menurut I.B. Putu Sudarsana dimana Kata Penjor berasal dari kata “Penjor”, yang dapat diberikan arti sebagai, “Pengajum”, atau “Pengastawa”, kemudian kehilangan huruf sengau, “Ny” menjadilah kata benda sehingga menjadi kata, “Penyor” yang mengandung maksud dan pengertian, ”Sebagai Sarana Untuk Melaksanakan Pengastawa”.
Umat Hindu di Bali pada saat hari raya Galungan pada umumnya membuat penjor. Penjor Galungan ditancapkan pada Hari Selasa/Anggara wara/wuku Dungulan yang dikenal sebagai hari Penampahan Galungan yang bermakna tegaknya dharma. Penjor dipasang atau ditancapkan pada lebuh didepan sebelah kanan pintu masuk pekarangan. Bila rumah menghadap ke utara maka penjor ditancapkan pada sebelah timur pintu masuk pekarangan. Sanggah dan lengkungan ujung penjor menghadap ke tengah jalan. Bahan penjor adalah sebatang bambu yang ujungnya melengkung, dihiasi dengan janur/daun enau yang muda serta daun-daunan lainnya (plawa). Perlengkapan penjor Pala bungkah (umbi-umbian seperti ketela rambat), Pala Gantung (misalnya kelapa, mentimun, pisang, nanas dll), Pala Wija (seperti jagung, padi dll), jajan, serta sanggah Ardha Candra lengkap dengan sesajennya. Pada ujung penjor digantungkan sampiyan penjor lengkap dengan porosan dan bunga. Sanggah Penjor Galungan mempergunakan Sanggah Ardha Candra yang dibuat dari bambu, dengan bentuk dasar persegi empat dan atapnya melengkung setengah lingkaran sehingga bentuknya menyerupai bentuk bulan sabit.
Tujuan pemasangan penjor adalah sebagai swadharma umat Hindu untuk mewujudkan rasa bakti dan berterima kasih kehadapan Ida Sanghyang Widi Wasa. Penjor juga sebagai tanda terima kasih manusia atas kemakmuran yang dilimpahkan Ida Sang Hyang Widi Wasa. Bambu tinggi melengkung adalah gambaran dari gunung yang tertinggi sebagai tempat yang suci. Hiasan yang terdiri dari kelapa, pisang, tebu, padi, jajan dan kain adalah merupakan wakil-wakil dari seluruh tumbuh-tumbuhan dan benda sandang pangan yang dikarunia oleh Hyang Widhi Wasa.
Penjor Galungan adalah penjor yang bersifat relegius, yaitu mempunyai fungsi tertentu dalam upacara keagamaan, dan wajib dibuat lengkap dengan perlengkapan-perlengkapannya.
Dilihat dari segi bentuk penjor merupakan lambang Pertiwi dengan segala hasilnya, yang memberikan kehidupan dan keselamatan. Pertiwi atau tanah digambarkan sebagai dua ekor naga yaitu Naga Basuki dan Ananta bhoga. Selain itu juga, penjor merupakan simbol gunung, yang memberikan keselamatan dan kesejahteraan. Hiasan-hiasan adalah merupakan bejenis-jenis daun seperti daun cemara, andong, paku pipid, pakis aji dll. Untuk buah-buahan mempergunakan padi, jagung, kelapa, ketela, pisang termasuk pala bungkah, pala wija dan pala gantung, serta dilengkapi dengan jajan, tebu dan uang.
Oleh karena itu, membuat sebuah penjor sehubungan dengan pelaksanaan upacara memerlukan persyaratan tertentu dalam arti tidak asal membuat saja, namun seharusnya penjor tersebut sesuai dengan ketentuan Sastra Agama, sehingga tidak berkesan hiasan saja. Sesungguhnya unsur-unsur penjor tersebut adalah merupakan symbol-simbol suci, sebagai landasan peng-aplikasian ajaran Weda, sehingga mencerminkan adanya nilai-nilai etika Agama. Unsur-unsur pada penjor merupakan simbol-simbol sebagai berikut:
- Kain putih yang terdapat pada penjor sebagai simbol kekuatan Hyang Iswara.
- Bambu sebagai simbol dan kekuatan Hyang Brahma.
- Kelapa sebagai simbol kekuatan Hyang Rudra.
- Janur sebagai simbol kekuatan Hyang Mahadewa.
- Daun-daunan (plawa) sebagai simbol kekuatan Hyang Sangkara.
- Pala bungkah, pala gantung sebagai simbol kekuatan Hyang Wisnu.
- Tebu sebagai simbol kekuatan Hyang Sambu.
- Sanggah Ardha Candra sebaga: simbol kekuatan Hyang Siwa.
- Upakara sebagai simbol kekuatan Hyang Sadha Siwa dan Parama Siwa.
Didalam Lontar “Tutur Dewi Tapini, Lamp. 26”, menyebutkan sebagai berikut :
“Ndah Ta Kita Sang Sujana Sujani, Sira Umara Yadnva, Wruha Kiteng Rumuhun, Rikedaden Dewa, Bhuta Umungguhi Ritekapi Yadnya, Dewa Mekabehan Menadya Saraning Jagat Apang Saking Dewa Mantuk Ring Widhi, Widhi Widana Ngaran Apan Sang Hyang Tri Purusa Meraga Sedaging Jagat Rat, Bhuwana Kabeh, Hyang Siwa Meraga Candra, Hyang Sadha Siwa Meraga “Windhune”, Sang Hyang Parama Siwa Nadha, Sang Hyang Iswara Maraga Martha Upaboga, Hyang Wisnu Meraga Sarwapala, Hyang Brahma Meraga Sarwa Sesanganan, Hyang Rudra Meraga Kelapa, Hyang Mahadewa Meraga Ruaning Gading, Hyang Sangkara Meraga Phalem, Hyang Sri Dewi Meraga Pari, Hyang Sambu Meraga Isepan, Hyang Mahesora Meraga Biting (IB. PT. Sudarsana, 61; 03)
WHD No. 478 Nopember 2006.
http://www.parisada.org/index.php?option=com_content&task=view&id=1150&Itemid=29
Selasa, 20 September 2011
Pedoman Hidup (01)
samaḥ śatrau ca mitre ca tathā mānāpamānayoḥ
śītoṣṇasukhaduḥkheṣu samaḥ saṅgavivarjitaḥ ||12.18|
tulyanindāstutir maunī saṃtuṣṭo yena kenacit
aniketaḥ sthiramatir bhaktimān me priyo naraḥ ||12.19|
"12.18-19 Orang yang bersikap sama terhadap kawan dan musuh, seimbang dalam penghormatan dan penghinaan, panas dan dingin, suka dan duka, kemasyuran dan fitnah, selalu bebas dari pergaulan yang mencemarkan, selalu diam dan puas dengan segala sesuatu, yang tidak mempedulikan tempat tinggal apapun, mantap dalam pengetahuan dan tekun dalam bhakti-orang seperti itu sangat disayang Tuhan.".
śītoṣṇasukhaduḥkheṣu samaḥ saṅgavivarjitaḥ ||12.18|
tulyanindāstutir maunī saṃtuṣṭo yena kenacit
aniketaḥ sthiramatir bhaktimān me priyo naraḥ ||12.19|
"12.18-19 Orang yang bersikap sama terhadap kawan dan musuh, seimbang dalam penghormatan dan penghinaan, panas dan dingin, suka dan duka, kemasyuran dan fitnah, selalu bebas dari pergaulan yang mencemarkan, selalu diam dan puas dengan segala sesuatu, yang tidak mempedulikan tempat tinggal apapun, mantap dalam pengetahuan dan tekun dalam bhakti-orang seperti itu sangat disayang Tuhan.".
Jumat, 16 September 2011
Canang, Bukan Sekedar Sajen
Canang adalah salah satu sarana sembahyang (banten) yang dipakai umat Hindu di Indonesia, terutama di Lombok dan Bali serta Jawa yang berupa serangkaian bunga berwadah janur. Bentu wadah yang terbuat dari janur pun beragam bentuknya, ada yang bulat, bersudut delapan dan ada yang persegi.
Di dalam kamus bahasa Jawa kata “canang” berarti sirih. Pada zaman Jawa Kuno, sirih adalah lambang penghormatan. Di mana setiap ada tamu berkunjung selalu disuguhkan sirih.
Selain terdiri dari bunga, canang juga terdiri dari porosan [komponen yang kurang menonjol] dan bija. Di dalam porosan terdapat daun sirih, kapur dan buah pinang. Sirih sebagai simbol pemujaan kepada Wisnu, kapur sebagai simbol permujaan terhadap Siwa dan buah pinang sebagai simbol pemujaan terhadap Brahma.
by: HINDUPEDIA
Di dalam kamus bahasa Jawa kata “canang” berarti sirih. Pada zaman Jawa Kuno, sirih adalah lambang penghormatan. Di mana setiap ada tamu berkunjung selalu disuguhkan sirih.
Selain terdiri dari bunga, canang juga terdiri dari porosan [komponen yang kurang menonjol] dan bija. Di dalam porosan terdapat daun sirih, kapur dan buah pinang. Sirih sebagai simbol pemujaan kepada Wisnu, kapur sebagai simbol permujaan terhadap Siwa dan buah pinang sebagai simbol pemujaan terhadap Brahma.
by: HINDUPEDIA
Kamis, 15 September 2011
Pura Jagadnata Banguntapan (Jogja), Tempat Pertapaan Hamengku Buwono II
Pura Jagadnata Banguntapan yang berlokasi di Jl. Pura No. 370 Banguntapan, Bantul, Yogyakarta ini adalah tempat pertapaan dari HB II yang kemudian bergelar Ki Banguntapa. Ki Banguntapan ini di yakini sebagai salah satu titisan dari Sabdopalon.
SEJARAH
| Arsitektur Jawa |
| Padmasana |
| Kegiatan keagamaan |
| Perayaan Hari Raya Nyepi "rasa" Jogja |
dari berbagai sumber
Dang Hyang Nirartha/Dang Hyang Dwijendra/Pedanda Sakti Wawu Rawuh/Tuan Semeru
Tersebutlah seorang keturunan Brahmana (Brahmana wangsa) bernama Nirartha adik dari Dang Hyang Angsoka, putra dari dang Hyang Asmaranatha. Ketika Sang Nirartha sedang muda jejaka beliau mengambil istri, di Daha, putri dari Dang Hyang Panawaran yaitu golongan keturunan Bregu di geria Mas Daha bernama Ida Istri Mas. Setelah bersuami istri, Sang Nirartha dilantik (didiksa) oleh Dang Hyang Panawaran menjadi pendeta (Brahmana Janma) diberi gelar Dang Hyang Nirartha.
Danghyang Nirartha/Danghyang Dwijendra atau yang juga dikenal dengan sebutan Pedanda Sakti Wawu Rauh (sebutan di Bali) dan Tuan Semeru (sebutan di Sumbawa) adalah seorang tokoh agama Hindu dari Jawa (Majapahit) dan seorang pengelana Hindu abad ke-16 Masehi. Danghyang Niratha bertanggung jawab dalam mempermudah pembentukan kembali agama Hindu di Bali, Lombok dan Sumbawa . Ia merupakan serorang pelopor pendapat akan moksha di Indonesia.
MENYINGKIR DARI PENGARUH ISLAM
Kehidupan masyarakat di Jawa saat itu sangat kacau balau, karena di sana-sini terjadi perkelahian-perkelahian dan pertempuran-pertempuran, penumpasan-penumpasan yang sangat mengerikan dan menyedihkan di antara orang-orang Jawa yang telah masuk agama Islam dengan orang-orang Jawa yang masih taat mempertahankan agama lamanya.
Akhirnya ‘kalah’ agama lama dengan Islam. Orang-orang Jawa yang masih taat dengan agama lamanya yaitu agama yang diwariskan oleh leluhurnya, terutama orang-orang Majapahit, banyak pindah antara lain ke Pasuruan, ke pegunungan Tengger, ke Brambangan (Banyuwangi), dan ada yang menyeberang ke Bali.
Ketika itulah Dang Hyang Nirartha turut pindah dari Daha ke Pasuruan disertai oleh dua orang putra-putrinya, sedang istrinya tidak disebutkan turut ke Pasuruan. Setelah berselang beberapa tahun lamanya di Pasuruan, maka Dang Hyang Nirartha mengambil istri pula, yaitu seorang wanita yang terhitung saudara sepupu olehnya, putri dari Dang Hyang Panawasikan bernama Ida Istri Pasuruan, dengan nama sanjungan disebut Diah sanggawati (seorang wanita yang sangat menarik dalam pertemuan) karena cantiknya. Perkawinan ini menghasilkan dua orang putra laki-laki, yaitu yang sulung diberi nama Ida Wayahan Lor atau Manuaba. Manuaba (mulanya Manukabha) berarti burung yang sangat indah karena tampan dan indah raut roman muka dan bentuk raganya. Adiknya bernama Ida Wiyatan atau Ida Wetan berarti fajar menyingsing.
BANYUWANGI
Kemudian Dang Hyang Dwijendra pindah pula dari Pasuruan ke Brambangan (banyuwangi) disertai oleh empat orang putra-putrinya namun istrinya tidak disebutkan turut. Tiada beberapa lama antaranya Dang Hyang Nirartha mengambil istri di sana yaitu adik dari Sri Aji Juru-Raja Brambangan bernama Sri Patni Kaniten yang sungguh-sungguh cantik molek rupanya sehingga terkenal dengan sebutan ‘jempyaning ulangun’, yaitu sebagai obat penawar jampi orang yang kena penyakit birahi asmara
Beliau itu turunan raja-raja (dalem) dan turunan Brahmana, terhitung buyut dari Dang Hyang Kresna Kepakisan di Majapahit, putri dari raja Brambangan kedua. Saudara adik dari raja Brambangan ketiga yang menjadi raja ketika itu, tegasnya bersaudara kumpi sepupu Dang Hyang Nirartha kepada Sri Patni Kaniten. Perkawinan ini menghasilkan tiga orang anak, seorang putri dan dua orang putra. Yang sulung seorang putri bernama Ida Rahi Istri rupanya cantik dan pandai dalam ilmu kebatinan; yang kedua bernama Ida Putu Wetan atau Telaga atau disebut juga Ida Ender (yang berarti ugal-ugalan) karena terkenal pandainya, kesaktiannya, dan ahli ilmu gaib. Banyak tulisan buah tangannya. Yang bungsu bernama Ida Nyoman Kaniten
MENINGGALKAN JAWA MENUJU PULAU BALI
Pada awal tahun 1537, Ia meninggalkan kota Blambangan bersama dengan keluarganya untuk menjadi kepala penasihat Raja Gelgel, Dalem Baturenggong. Ia meninggalkan wilayah kerajaan Blambangan setelah salah satu istri dari majikannya jatuh cinta kepadanya. Kejadian ini memicu keberangkatannya meninggalkan pulau Jawa. Beberapa legenda menuliskan bahwa perjalannya dari Jawa ke pulau Bali dilakukan dengan menduduki labu, hal ini mengakibatkan penilaian tabu di lingkungan Brahmin Bali akan konsumsi labu.
Setelah kedatangannya di Bali, ia tiba di lingkungan kerajaan Raja Dalem Baturenggong. Bertepatan dengan masa dimana Bali sedang dijangkiti oleh berbagai penyakit dari tahun-tahun sebelumnya, Nirartha memberikan sebagian rambutnya kepada raja dan menyatakan bahwa hal tersebut akan menghapus penderitaan. Rambut ini ditempatkan di sebuah kuil yang kemudian menjadi tempat ziarah umat Hindu di Bali.
ORANG SUCI SEKALIGUS ARSITEK
Nirartha merupakan pencipta arsitektur padmasana untuk Pura Hindu di Bali. Semasa perjalanan Nirartha, jumlah Pura-Pura di pesisir pantai di Bali bertambah dengan adanya padmasana.
Ia juga menciptakan sistem tiga-Pura untuk desa-desa di Bali. Pura untuk Brahma di utara, Wisnu di bagian tengah dan sebuah Pura untuk Siwa di bagian selatan desa. Sistem ini digunakan untuk memperkokoh konsep Dewa Trimurti dalam agama Hindu.
dari berbagai sumber
http://id-id.facebook.com/notes/negara-bali-club/sejarah-dang-hyang-nirartha/180650278665173
http://id.wikipedia.org/wiki/Dang_Hyang_Nirartha
| Ilustrasi Danghyang Niratha |
MENYINGKIR DARI PENGARUH ISLAM
Akhirnya ‘kalah’ agama lama dengan Islam. Orang-orang Jawa yang masih taat dengan agama lamanya yaitu agama yang diwariskan oleh leluhurnya, terutama orang-orang Majapahit, banyak pindah antara lain ke Pasuruan, ke pegunungan Tengger, ke Brambangan (Banyuwangi), dan ada yang menyeberang ke Bali.
Ketika itulah Dang Hyang Nirartha turut pindah dari Daha ke Pasuruan disertai oleh dua orang putra-putrinya, sedang istrinya tidak disebutkan turut ke Pasuruan. Setelah berselang beberapa tahun lamanya di Pasuruan, maka Dang Hyang Nirartha mengambil istri pula, yaitu seorang wanita yang terhitung saudara sepupu olehnya, putri dari Dang Hyang Panawasikan bernama Ida Istri Pasuruan, dengan nama sanjungan disebut Diah sanggawati (seorang wanita yang sangat menarik dalam pertemuan) karena cantiknya. Perkawinan ini menghasilkan dua orang putra laki-laki, yaitu yang sulung diberi nama Ida Wayahan Lor atau Manuaba. Manuaba (mulanya Manukabha) berarti burung yang sangat indah karena tampan dan indah raut roman muka dan bentuk raganya. Adiknya bernama Ida Wiyatan atau Ida Wetan berarti fajar menyingsing.
BANYUWANGI
Kemudian Dang Hyang Dwijendra pindah pula dari Pasuruan ke Brambangan (banyuwangi) disertai oleh empat orang putra-putrinya namun istrinya tidak disebutkan turut. Tiada beberapa lama antaranya Dang Hyang Nirartha mengambil istri di sana yaitu adik dari Sri Aji Juru-Raja Brambangan bernama Sri Patni Kaniten yang sungguh-sungguh cantik molek rupanya sehingga terkenal dengan sebutan ‘jempyaning ulangun’, yaitu sebagai obat penawar jampi orang yang kena penyakit birahi asmara
Beliau itu turunan raja-raja (dalem) dan turunan Brahmana, terhitung buyut dari Dang Hyang Kresna Kepakisan di Majapahit, putri dari raja Brambangan kedua. Saudara adik dari raja Brambangan ketiga yang menjadi raja ketika itu, tegasnya bersaudara kumpi sepupu Dang Hyang Nirartha kepada Sri Patni Kaniten. Perkawinan ini menghasilkan tiga orang anak, seorang putri dan dua orang putra. Yang sulung seorang putri bernama Ida Rahi Istri rupanya cantik dan pandai dalam ilmu kebatinan; yang kedua bernama Ida Putu Wetan atau Telaga atau disebut juga Ida Ender (yang berarti ugal-ugalan) karena terkenal pandainya, kesaktiannya, dan ahli ilmu gaib. Banyak tulisan buah tangannya. Yang bungsu bernama Ida Nyoman Kaniten
MENINGGALKAN JAWA MENUJU PULAU BALI
Pada awal tahun 1537, Ia meninggalkan kota Blambangan bersama dengan keluarganya untuk menjadi kepala penasihat Raja Gelgel, Dalem Baturenggong. Ia meninggalkan wilayah kerajaan Blambangan setelah salah satu istri dari majikannya jatuh cinta kepadanya. Kejadian ini memicu keberangkatannya meninggalkan pulau Jawa. Beberapa legenda menuliskan bahwa perjalannya dari Jawa ke pulau Bali dilakukan dengan menduduki labu, hal ini mengakibatkan penilaian tabu di lingkungan Brahmin Bali akan konsumsi labu.
Setelah kedatangannya di Bali, ia tiba di lingkungan kerajaan Raja Dalem Baturenggong. Bertepatan dengan masa dimana Bali sedang dijangkiti oleh berbagai penyakit dari tahun-tahun sebelumnya, Nirartha memberikan sebagian rambutnya kepada raja dan menyatakan bahwa hal tersebut akan menghapus penderitaan. Rambut ini ditempatkan di sebuah kuil yang kemudian menjadi tempat ziarah umat Hindu di Bali.
ORANG SUCI SEKALIGUS ARSITEK
Nirartha merupakan pencipta arsitektur padmasana untuk Pura Hindu di Bali. Semasa perjalanan Nirartha, jumlah Pura-Pura di pesisir pantai di Bali bertambah dengan adanya padmasana.
Ia juga menciptakan sistem tiga-Pura untuk desa-desa di Bali. Pura untuk Brahma di utara, Wisnu di bagian tengah dan sebuah Pura untuk Siwa di bagian selatan desa. Sistem ini digunakan untuk memperkokoh konsep Dewa Trimurti dalam agama Hindu.
dari berbagai sumber
http://id-id.facebook.com/notes/negara-bali-club/sejarah-dang-hyang-nirartha/180650278665173
http://id.wikipedia.org/wiki/Dang_Hyang_Nirartha
Candi Gedong Songo, Menyatu Dengan Alam & Mendekat Pada Tuhan
![]() |
| menyatu dengan alam |
Candi-candi yang terletak di Gunung Ungaran ini diyakini sebagai Candi Hindu dengan ditemukannya arca-arca Hindu yang terletak didalam dan disekitar lokasi candi. Diantaranya dengan ditemukannya arca Ciwa Mahadewa, Ciwa Mahaguru, Ganeca, Durga Mahisasura Mardhini, Nandi Swara, Mahakala dan Yoni yang ada di bilik candi. Keistimewaan yang lain dari Candi Gedong Songo adalah terletak pada arca gajah dalam posisi jongkok di kaki Candi Gedong III, dan Yoni dalam bentuk persegi panjang pada bilik Candi Gedong I.
Mengenai kapan berdirinya Candi Gedong Songo tidak ada yang tahu pasti, namun diperkirakan oleh para ahli bahwa candi-candi tersebut telah dibuat semasa dengan Candi Dieng yang dibuat pada kurun waktu abad VII – IX Masehi pada masa Dinasti Syailendra. Hal ini diketahui dari artefak-artefak yang ditinggalkan di sekitar lokasi candi, serta adanya kemiripan-kemiripan fisik antara Candi Gedong Songo dan Candi Dieng. Lokasi kedua candi yang terletak di ketinggian gunung semakin menambah keyakinan bahwa kedua candi tersebut dibangun pada masa yang sama.
dari berbagai sumber
Selasa, 13 September 2011
Makna Warna Merah dan Putih Menurut Hindu
Merah dan Putih, dwiwarna ini selalu hadir di dalam sejarah penting bangsa Indonesia. Sebelum masuknya pengaruh Eropa dan era kolonialisme Belanda, kerajaan-kerajaan di Nusantara telah menggunakan bendera berwarna merah dan putih secara berdampingan dan sejajar. Bukti yang paling kuat adalah bahwa Kerajaan Majapahit telah menggunakan dwiwarna ini sebagai lambangnya dan kerajaan inilah yang berhasil menyatukan seluruh Nusantara pada sekitar akhir abad ke-13 pada saat pemerintahan Raja Hayam Wuruk dan didampingi oleh Patih Gadjah Mada. Pada saat itu jumlah Merah Putih yang digunakan sebagai bendera Majapahit adalah sembilan garis. Wilayah Nusantara yang dikuasai oleh Majapahit diduga hampir sama, bahkan kalau tidak salah, lebih besar daripada Republik Indonesia saat ini. Pada saat akhir-akhir masa kejayaan Majapahit, kebesaran makna dwiwarna Merah dan Putih mulai dilupakan dan saat itu mulai muncul kerajaan-kerajaan Islam yang tidak lagi menggunakan warna Merah Putih dan pada akhirnya Nusantara menjadi koloni Belanda selama kurang lebih 350 tahun.
Nilai-nilai bahwa Merah Putih adalah seperti jiwa dan raga yang tidak dapat dipisahkan bisa jadi merupakan alasan utama mengapa Majapahit mengambilnya. Pada saat itu agama yang dianut oleh kerajaan besar Nusantara ini adalah Hindu, yang kita ketahui mempercayai adanya keseimbangan di dalam alam semesta dan kedua warna ini dianggap mewakilinya. Dwiwarna yang tidak dapat dipisah-pisahkan dan akan selalu berdampingan hingga akhir jaman. Di dalam kebudayaan Hindu yang tercerminkan di dalam hasil-hasil karya seni, warna-warna utama memiliki arti tersendiri dan memiliki peranan penting dalam simbolisasi ajaran Hindu.
Warna merah adalah warna yang sangat penting di dalam kebudayan Hindu. Ritual-ritual keagamaan pada upacara pernikahan, kelahiran, dan juga kematian selalu menggunakan warna merah. Warna merah di dalam Hindu melambangkan Shakti atau daya tahan serta kompetensi. Warna putih adalah warna yang dihasilkan dari campuran tujuh warna utama dan kekuatan semua warna terbagi rata di dalam warna putih ini. Arti dari warna putih di dalam ajaran Hindu adalah kesucian, kebersihan, perdamaian, dan pengetahuan. Dewi pengetahuan Hindu, Saraswati, selalu digambarkan menggunakan baju berwarna putih dan duduk di atas bunga teratai berwarna putih.
diolah dari: http://ngobrolpolitik.wordpress.com/2011/03/26/sang-saka-merah-putih/
![]() |
| Peta wilayah kekuasaan Keraton Majapahit |
Warna merah adalah warna yang sangat penting di dalam kebudayan Hindu. Ritual-ritual keagamaan pada upacara pernikahan, kelahiran, dan juga kematian selalu menggunakan warna merah. Warna merah di dalam Hindu melambangkan Shakti atau daya tahan serta kompetensi. Warna putih adalah warna yang dihasilkan dari campuran tujuh warna utama dan kekuatan semua warna terbagi rata di dalam warna putih ini. Arti dari warna putih di dalam ajaran Hindu adalah kesucian, kebersihan, perdamaian, dan pengetahuan. Dewi pengetahuan Hindu, Saraswati, selalu digambarkan menggunakan baju berwarna putih dan duduk di atas bunga teratai berwarna putih.
diolah dari: http://ngobrolpolitik.wordpress.com/2011/03/26/sang-saka-merah-putih/
Langganan:
Postingan (Atom)




