Minggu, 11 September 2011

Sejarah Kerajaan Sunda

Kerajaan Sunda terletak di daerah Jawa Barat sekarang. Tak dapat dipastikan dimana pusat kerajaan ini sesungguhnya. Berdasarkan sumber sejarah berupa prasasti dan naskah-naskah berbahasa Sunda Kuno dikatakan bahwa pusat kerajaan Sunda telah mengalami beberapa perpindahan. Menurut Kitab Carita Parahyangan, Ibukota kerajaan Sunda mula-mula di Galuh, kemudian menurut Prasasti Sanghyang Tapak yang ditemukan di tepi sungai Cicatih, Cibadak Sukabumi, Isi dari prasasti itu tentang pembuatan daerah terlarang di sungai itu yang ditandai dengan batu besar di bagian hulu dan hilirnya. Oleh Raja Sri Jayabhupati penguasa kerajaan Sunda. Di daerah larangan itu orang tidak boleh menangkap ikan dan hewan yang hidup di sungai itu. tujuannya untuk menjaga kelestarian lingkungan (agar ikan dan lain-lainnya tidak punah).

Kerajaan Sunda beribu kota di Parahyangan Sunda. Sementara itu menurut prasasti Astana Gede (Kawali – Ciamis) ibu kota kerajaan Sunda berada di Pakwan Pajajaran. Mengenai perpindahan kerajaan ini tak diketahui alasannya. Akan tetapi, hal-hal yang bersifat ekonomi, keamanan, politik, atau bencana alam lazim menjadi alasan perpindahan pusat ibu kota suatu kerajaan.

Kerajaan Sunda menguasai daerah Jawa Barat untuk waktu yang lama, diantara rajanya, yang terkenal adalah Jaya Bhupati dan Sri Baduga Maharaja.

Jayabhupati
Sebenarnya nama Sunda pernah disebut didalam prasasti yang temukan di desa Kebon Kopi Bogor. Prasasti itu berangka tahun 854. Prasasti itu ditulis dengan bahasa Melayu Kuno, isinya tentang seorang Rakrayan Juru Pengambat yang memulihkan raja Sunda. Sumber kesusastraan yang sampai kepada kita adalah Carita Parahyangan (dari akhir abad ke-16) kitab lain yang juga menyebut kerajaan Sunda adalah Kitab “Siksa Kandang Karesia” (1518), berita Cina dari masa Dinasti Ming menyebut adanya kerajaan Sunda.

Didalam kita Carita Parahyangan disebutkan bahwa kerajaan itu memerintah seorang raja bernama Sanjaya. Tokoh itu dikenal juga dalam prasasti Canggal dari Jawa Tengah. Dalam kitab Carita Parahyangan disebutkan bahwa Raja Sanjaya menggantikan raja Sena yang berkuasa di Kerajaan Galuh. Kekuasaan raja Sena kemudian direbut oleh Rahyang Purbasora, Saudara seibu raja Sena. Sena sendiri menyingkir ke gunung Merapi bersama keluarganya. Setelah dewasa, Sanjaya berkuasa di Jawa Tengah. Ia berhasil merebut kembali kerajaan Galuh dari tangan Purbasora. Kerajaan kemudian berganti nama menjadi kerajaan Sunda.
Setelah masa pemerintahan JayaBhupati, pada tahun 1350 yang menjadi raja di kerajaan Sunda adalah Prabu Maharaja. Ia mempunyai seorang putri bernama Dyah Pitaloka.

Prabu Maharaja berperang melawan tentara Majapahit yang dipimpin Gajah Mada di daerah Bubat pada tahun 1354. dalam pertempuran itu raja Sunda bersama-sama para pengiringnya terbunuh. Kematian Raja Sunda dan pengiringnya membuat raja Majapahit yaitu Hayam Wuruk, marah besar kepada Gajah Mada, lalu Gajah Mada dipecat dari jabatannya.

Sri Baduga Majaraja
Ia adalah putra dari Ningrat Kancana. Sri Baduga merupakan raja yang besar. Ia membuat sebuah telaga yang diberi nama Telaga Rena Mahawijaya. Ia memerintahkan membangun parit di sekeliling ibukota kerajaannya yang bernama Pakwan Pajajaran. Raja Sri Baduga memerintah berdasarkan kitab hukum yang berlaku saat itu sehingga kerajaan menjadi aman dan tenteram. Keterangan tentang Raja Sri Baduga dapat kita jumpai dalam prasasti Batutulis yang ditemukan di Bogor.

http://unsilster.com/2010/04/cerita-sejarah-kerajaan-sunda/

Pemujaan Bertahap


Yanti devavrataa devan
pitrn yanti pitrvrataah
bhutaaani yanti bhutejyaa
yanti madyaajino''pi maam.
(Bhagawad Gita IX. 25).

Artinya:
Penyembahan Deva-Deva akan sampai pada dewa, penyembahan leluhur akan sampai pada leluhur, penyembahan Bhuta akan sampai pada Bhuta. Mereka yang menyembah-Ku akan sampai pada-Ku.

SLOKA Bhagawad Gita ini sering menimbulkan salah pengertian. Seakan-akan umat Hindu, hanya menyembah Bhuta, atau menyembah leluhur, menyembah Dewa saja, atau menyembah Tuhan saja. Sistem penyembahan yang terpisah-pisah demikian itu tidak ada dalam pengamalan agama Hindu baik dalam tradisi Hindu di India maupun dalam tradisi Hindu di Indonesia.

Ini artinya dalam sistem pemujaan Hindu antara menyembah Bhuta, Pitra, Deva dan Brahmana (Tuhan) bukan merupakan sesuatu yang dikotomis atau sesuatu yang bertentangan. Hal itu tidak bermaksud kalau menyembah Tuhan bukan berarti dilarang menyembah Bhuta, Pitra dan Deva. Bhuta dalam pengertian ini bukanlah berarti setan, jin atau roh-roh jahat. Bhuta itu adalah alam ciptaan Tuhan yang dibangun dengan lima unsur Bhuta. Lima unsur Bhuta itu disebut Panca Maha Bhuta (pertiwi, apah, teja, bayu, dan akasa). Melakukan komunikasi rohani dengan semuanya itu digunakan istilah yadnya.

Yadnya kepada Bhuta, Pitra, Deva dan Tuhan itu salah satu wujudnya dalam bentuk bhakti, atau puja. Istilah bhakti dan puja itu dalam Bahasa Jawa Kuna diterjemahkan menjadi kata Sembah. Kata sembah dalam kamus Bahasa Jawa Kuna memiliki lima arti atau pengertian. Sembah berarti menyayangi atau mengasihi, menghormati, memohon, menyerahkan diri dan menyatukan diri.

Menyembah bhuta tentunya tidak seperti menyembah Tuhan dengan menyerahkan diri secara total. Menyembah bhuta artinya menyayangi atau mengasihi bhuta atau alam lingkungan dalam wujud bhuta yadnya. Menyembah bhuta, bukan berarti menyerahkan diri pada bhuta seperti menyembah Tuhan. Dalam Sarasamuscaya 135 disebutkan untuk menegakkan tujuan hidup mencapai dharma, artha, kama dan moksha terlebih dahulu harus melakukan bhuta hita. Bhuta hita artinya mensejahterakan alam. Manusia bisa hidup dari yadnya bhuta atau alam. Karena itu manusia wajib melakukan yadnya pada Bhuta. Karena itu dalam Lontar Panca Sembah dinyatakan menyembah Bhuta dengan mencakupkan tangan di pusar, bukan di atas ubun-ubun seperti menyembah Tuhan. Sikap menyembah ini melambangkan sikap untuk membangun kasih sayang pada alam lingkungan, yang disebut panca maha bhuta. Demikian juga menyembah leluhur (dewa pitara).

Menyembah leluhur yang telah suci dinyatakan dengan tegas dalam kitab suci Rgveda dan juga kitab-kitab Sastra Veda lainnya. Dalam kitab Rgveda ada tidak kurang dari 12 mantra yang menyatakan tentang pemujaan Leluhur. Hal itu dinyatakan dalam kitab Rgveda Mandala X, Sukta 15 dari mantra 1 sampai dengan Mantra 12.

Apalagi dalam kitab Manwa Dharmasastra banyak sekali sloka-sloka yang mengajarkan tentang pemujaan leluhur. Pemujaan leluhur banyak dinyatakan dalam Adyaya III kitab Manawa Dharmasastra. Dalam lontar-lontar di Bali sistem pemujaan leluhur atau Dewa Pitara banyak sekali kita jumpai petunjuk tehnisnya. Karena itu tidaklah benar ada sementara orang yang beragama Hindu dari Sampradaya tertentu yang menyatakan Hindu atau kitab Suci Weda tidak mengenal bahkan dikatakan tidak membenarkan adanya pemujaan leluhur. Karena sangat jelas petunjuknya terdapat dalam kitab suci Weda dan kitab-kitab Sastranya.
Di samping itu, pemujaan leluhur itu sudah sangat mentradisi berabad-abad dalam tradisi Hindu di seluruh dunia. Demikian pula tentang pemujaan Deva sinar suci atau manifestasi Tuhan. Dalam kitab Manawa Dharmasastra III.205 dengan tegas dinyatakan bahwa pemujaan kepada Dewa sinar suci Tuhan dilakukan setelah pemujaan kepada leluhur (dewa Pitara). Jadi semua sistem pemujaan itu adalah pemujaan yang bertahap menuju pemujaan yang tertinggi yaitu pemujaan kepada Tuhan Yang Maha Esa dan yang Mahakuasa.

Sistem pemujaan bertahap ini tentunya berlaku untuk umat Hindu secara umum. Kalau ada orang-orang suci seperti Maha Resi yang tingkatannya sudah tinggi dapat saja melakukan pemujaan hanya kepada Tuhan. Beragama itu merupakan privasi seseorang, tentunya dalam pelaksanaannya sangat tergantung pada tingkatan pemahamannya pada agama yang dianutnya. Tetapi janganlah menyatakan dalam Weda tidak ada petunjuk tentang pemujaan leluhur.

Balipost 21 Februari 2001

Sabtu, 03 September 2011

Pura Parahyangan Agung Jagatkarttya Taman Sari Gunung Salak, Simbol Kerajaan Padjajaran (Jawa Barat)

Sampurasun,...
Om awignam astu namas sidam
Bhakti hamba pada karuhun
Leluhur ditanah Sunda
Yang menyatukan kami sejagat
Dumogi rahayu parahyangan Gunung Salak....
PROFIL 
Nama: Pura Parahyangan Agung Jagatkarttya Taman Sari Gunung Salak
Lokasi: Gunung Salak, Kampung Warung Loak, Desa Taman Sari, Kel, Ciapus, Bogor - JAWA BARAT
Status: Pura umum

Gunung Salak memang sulit untuk didaki. Itu tidak lepas dari sisi-sisi mistis yang menyelimutinya. Dan, ada sisi lain yang membuat gunung ini semakin disegani. Prabu Siliwangi, Raja Pajajaran yang paling masyhur, pernah berada di gunung itu. Buktinya, sebuah tempat ibadah berdiri setelah sang prabu menurunkan wangsitnya.

Sejarah Hindu di tanah Sunda
Belum ada literatur yang bisa memastikan kapan agama Hindu masuk ke wilayah Jawa Barat. Tapi setidaknya telah ditemukan sejumlah bukti peninggalan Kerajaan Hindu di Jawa Barat yakni Tarumanegara dengan rajanya yang terkenal Purnawarman.
Gerbang masuk utama Pura
Sebagian peninggalan itu diantaranya kini tersimpan di Museum Nasional Jakarta. Jejak kaki sang raja bahkan tercetak pada sebuah batu yang lalu dikenal sebagai prasasti Ciaruteun.
Pura yang menyatu dengan alam.
Jejak kaki Raja Purnawarman ini diibaratkan seperti telapak kaki Dewa Wisnu, salah satu dewa umat Hindu. Di Museum Nasional juga terdapat prasasti Tugu. Prasasti Hindu tertua yang ditemukan di Pulau Jawa.
Dalam prasasti Tugu yang diperkirakan berasal dari tahun 450 Masehi ini misalnya, penunjukkan Prabu Purnawarman dari Tarumanegara pernah memerintahkan penggalian saluran terusan sungai dari Bekasi ke Pelabuhan Sunda Kelapa untuk sistem pengairan dan membuka jalur pelayaran ke pedalaman.
Pada akhir abad ke VII, Kerajaan Tarumanegara diduga hancur takluk pada Kerajaan Sri Wijaya. Baru pada awal abad ke 14 hadir kembali Kerajaan Hindu Sunda yang cukup kuat dibawah kepemimpinan Prabu Siliwangi. Yakni Kerajaan Padjadjaran dengan ibukotanya terletak disekitar Pakuan yang kini dikenal sebagai kota Bogor.

Tempat Prabu Siliwangi Menghilang
Candi untuk menghormati Prabu Siliwangi beserta para prajuritnya yang konon menjelma menjadi Macan yang menjaga tanah Sunda.
Konon, dulu sering ada hal-hal gaib yang terjadi di wilayah ini yang berhubungan dengan Prabu Siliwangi, raja masyur dari Kerajaan Hindu terakhir di Jawa Barat. Ada yang percaya di tempat Pura ini berdiri adalah tempat Prabu Siliwangi menghilang bersama para prajuritnya. Hingga akhirnya sebelum membangun pura, umat Hindu lalu memutuskan untuk membangun terlebih dulu candi dengan patung macan berwarna putih dan hitam. Sebagai penghormatan terhadap Kerajaan Padjadjaran, Kerajaan Hindu terakhir di tanah Parahyangan.

Wangsit Prabu Siliwangi
Lukisan yang menggambarkan sosok Prabu Siliwangi.
"Semua keturunan kalian akan aku kunjungi, tetapi hanya pada waktu tertentu saja dan saat diperlukan. Aku akan datang lagi, menolong yang perlu dan membantu yang susah, tapi hanya mereka yang baik budi pekertinya. Apabila aku datang tak akan terlihat; apabila aku berbicara tak akan terdengar. Memang aku akan datang tapi hanya untuk mereka yang baik hatinya, mereka yang mengerti dan satu tujuan, yang mengerti tentang harum sejati juga mempunyai jalan pikiran yang lurus dan bagus tingkah lakunya. Ketika aku datang, tidak berupa dan bersuara tapi memberi ciri dengan wewangian. Semenjak hari ini, Pajajaran hilang dari alam nyata. Hilang kotanya, hilang negaranya. Pajajaran tidak akan meninggalkan jejak, selain nama untuk mereka yang berusaha menelusuri. Sebab bukti yang ada akan banyak yang menolak! Tapi suatu saat akan ada yang mencoba, supaya yang menghilang (ngahyang) bisa ditemukan kembali. Bisa saja, hanya menelusurinya harus memakai dasar (batin yang kuat). Namun sayang yang menelusurinya banyak yang sok pintar dan sombong bahkan berlebihan bicaranya."


dari berbagai sumber

Burung Garuda

Garuda adalah seekor burung mitologis, setengah manusia setengah burung, wahana Wisnu. Ia adalah raja burung-burung dan merupakan keturunan Kaśyapa dan Winatā, salah seorang putri Dakṣa. Ia musuh bebuyutan para ular, sebuah sifat yang diwarisinya dari ibunya, yang pernah bertengkar dengan sesama istri dan atasannya, yaitu Kadru, ibu para ular.
Sinar Garuda sangat terang sehingga para dewa mengiranya Agni (Dewa Api) dan memujanya. Garuda seringkali dilukiskan memiliki kepala, sayap, ekor dan moncong burung elang, dan tubuh, tangan dan kaki seorang manusia. Mukanya putih, sayapnya merah, dan tubuhnya berwarna keemasan.

Ia memiliki putera bernama Sempati (Sampāti) dan istrinya adalah Unnati atau Wināyakā. Menurut kitab Mahabharata, orang tuanya memberinya kebebasan untuk memangsa manusia, tetapi tidak boleh kaum brahmana. Suatu ketika, ia menelan seorang brahmana dan istrinya. Lalu tenggorokannya terbakar, kemudian ia muntahkan lagi.

Garuda dikatakan pernah mencuri amerta dari para dewa untuk membebaskan ibunya dari cengkeraman Kadru. Kemudian Indra mengetahuinya dan bertempur hebat dengannya. Amerta dapat direbut kembali, tetapi Indra luka parah dan kilatnya (bajra) menjadi rusak.

http://id.wikipedia.org/wiki/Garuda

Kamis, 01 September 2011

Pura Giri Selaka, Banyuwangi - Jawa Timur

Pura ini ditemukan tak sengaja oleh warga sekitar pada 1967. Saat itu, masyarakat Kecamatan Tegaldlimo melakukan perabasan terhadap sejumlah kawasan hutan Alas Purwo untuk bercocok tanam. Daerah di sekitar pura pun tampak cukup makmur dengan hasil palawijanya. Suatu ketika, di tempat berdirinya Pura Alas Purwo yang oleh masyarakat disebut Situs Alas Purwo, ada sebuah gundukan tanah.
Gerbang masuk hutan Alas Purwo
Masyarakat ingin meratakan dan menjadikan lahan cocok tanam. Tanpa diduga, ada bungkahan-bungkahan bata besar yang masih tertumpuk. Persis seperti gapura kecil. Lantas masyarakat sekitarnya membawa bungkahan bata-bata itu ke rumahnya. Ada yang menjadikan bahan membuat tungku dapur, ada juga untuk membuat alas rumah. Rupanya, keluguan masyarakat itu telah menyebabkan munculnya musibah bagi warga yang mengambil bata-bata tersebut.

Selang beberapa saat setelah mengambil bata itu, semuanya jatuh sakit. Pada saat itulah, ada sabda agar bongkahan batu bata tersebut dikembalikan ke tempatnya semula. Bongkahan-bongkahan itu adalah tempat petapakan maharesi suci Hindu zaman dulu. Meski belum ada catatan resmi dalam prasasti, masyarakat mempercayai yang malinggih di situs Pura Alas Purwo adalah Empu Bharadah. Tetapi, ada juga yang menyebut Rsi Markandiya sebelum mereka menuju Bali. Selanjutnya, masyarakat setempat sangat yakin dengan kekuatan dan kesucian situs Alas Purwo tersebut. Sampai ada keinginan seorang warga untuk memagari situs itu agar aman dari jangkauan orang jahil. Akan tetapi, belum sampai tuntas mewujudkan keinginannya, warga tersebut keburu meninggal.

http://www.betngandang.com/kegiatan/35-kegiatan/59-tirta-yatra-ke-pura-di-kawasan-banyuwangi

Pura Agung Blambangan, Terbesar di Banyuwangi (Jawa Timur)


Pura Agung Blambangan, awalnya merupakan situs umpak songo, peninggalan zaman kerajaan blambangan. Pura agung blambangan, terletak di desa tembok rejo kecamatan muncar kabupaten Banyuwangi. Perjalanan ke lokasi ini, menempuh waktu selama kurang lebih satu jam, dari pelabuhan ketapang, Banyuwangi.
suasana peresmian Pura Agung Blambangan, 1980

Pura Agung Blambangan merupakan pura terbesar diantara 92 buah pura lainnya yang ada di banyuwangi dan telah diresmikan hari sabtu, tepatnya pada hari raya Kuningan, 28 juni 1980.

Pelataran Pura Agung Blambangan mempunyai Luas 1.375 m2, dan itu pun tidak cukup menampung Umat Hindu di Banyuwangi ketika melakukan persembahyangan bersama.

Padmasananya berketinggian 10,6 meter yang dikelilingi bangunan tembok sebelah Barat 37,6 meter, Utara 36,5 meter, Timur 37,6 meter dan Selatan 28 meter.

Biaya pembangunan pura Agung Blambangan seluruhnya mencapai Rp 6.135.708,- yang sumber dananya berasal dari Departemen Agama Rp.750.000,-, pemerintah daerah kabupaten Banyuwangi Rp.650.000,- dan sisanya dari swadaya masyarakat disana disamping dari darmawan lainnya.

Filosofi Burung Tingang Menurut Hindu Kaharingan

Suku Dayak, Kalimantan
Burung Tingang merupakan satwa langka yang terdapat di hutan rimba Kalimantan. Tercatat sebagai keturunan burung yang hidup sejak ribuan tahun lalu. Sejak lama burung tingang memang sudah menjadi salah satu burung yang “dipuja” dibanyak kebudayaan kuno, termasuk suku Dayak di Kalimantan. Burung tingang pada beberapa kebudayaan kuno menjadi bagian ritual religi yang melambangkan kebebasan, kesucian dan mithologi. Burung yang dianggap memiliki kekuatan gaib oleh suku dayak ini, Kini ia termasuk dalam daftar hewan yang dilindungi karena terancam punah.
Oleh karena itu hewan yang memiliki paruh yang cantik ini termasuk dalam satwa yang dilindungi di Indonesia. Burung Tingang ini memiliki ciri khas yang tersendiri antara lain; ukuran tubuh yang besar, kurang lebih dua kali ayam kampung dan memiliki paruh yang sangat besar menyerupai tanduk berwarna kuning gading, dari kepala sampai leher memiliki bulu yang seperti rambut manusia. Ekor memiliki warna yang memiliki makna tersendiri menurut orang dayak yaitu; putih,hitam dan putih. Dari kejauhan, burung ini dapat dikenali melalui suara yang parau lantang. Burung dengan ukuran tubuh yang sangat besar, dengan suara yang keras serta beberapa jenis memiliki warna tubuh yang mencolok, merupakan burung yang sangat jarang dijumpai.

Dalam kepercayaan umat hindu kaharingan, burung tingang memiliki makna tersendiri. Berdasarkan mithologi agama hindu kaharingan, di lewu batu nindan tarung (alam atas), Tingang Rangga Bapantung Nyahu (burung tingang) adalah  salah satu penciptaan Ranying Hatala melalui perubahan wujud Luhing Pantung Tingang (destar) yang dipakai oleh Raja Bunu ketika ia menerima Danum nyalung Kaharingan belum (Air Suci Kehidupan). Seperti yang terdapat dalam ayat-ayat kitab suci panaturan
Pasal 27 ayat 21
“Hayak auh nyahu batengkung ngaruntung langit, homboh malentar kilat basiring hawun,Luhing pantung tingang basaluh manjadi Tingang Rangga Bapantung Nyahu”.

Bersama bunyi Guntur menggemuruh memenuhi alam semesta, petir halilintar menggetarkan buana, Luhing pantung tingang kejadian menjadi Tingang Rangga Bapantung Nyahu (burung enggang).

 Kemudian burung tingang tersebut tinggal dan menempati Lunuk Jayang Tingang Baringen Sempeng Tulang Tambarirang (Pohon Beringin), dimana pada saat Balian Balaku Untung wujud burung tingang itu memberkati kehidupan manusia melalui perjalanan Banama Tingang (perahu) untuk mendapatkan berkat dan karunia dari Ranying Hatala.

Oleh karena itu dalam setiap upacara basarah yang dilakukan oleh umat hindu kaharingan selalu terdapat dandang tingang (bulu ekor tingang) sebagai sarana pelengkap yang terdapat didalam sangku tambak raja mendapatkan bulau untung aseng panjang (berkat dan karunia-Nya) dari Ranying Hatala. Dilihat dari filsafat keagamaan hindu kaharingan sendiri dandang tingang memiliki makna simbolis didalam kehidupan umat manusia yaitu :
1. Warna putih dibagian atas, berarti alam kekuasaan Ranying Hatala beserta manisfestasi-manisfestasi-Nya.
2. Warna hitam di tengah, yaitu alam kehidupan manusia di pantai danum kalunen (dunia) yang penuh dengan rintangan dan cobaan.
3. Warna putih dibagian bawah, berarti alam kekuasaan Jatha Balawang Bulau.
Dari ketiga warna tersebutlah yang menjadi warna corak dalam kehidupan umat hindu kaharingan yang diaplikasikan dalam bhakti sebagai ucapan syukur kepada Ranying Hatala dan Jatha Balawang Bulau melalui berbagai upacara-upacara yang sering dilakukan dalam kehidupan sehari-hari.
Umat hindu kaharingan meyakini bahwa dalam bulu ekor tingang tersebut terdapat suatu kekuatan gaib yang menjadi pedoman hidup yang berlandaskan dengan Lime Sarahan (Lima Pengakuan Iman) dalam meyakini segala kekuasaan Ranying Hatala dalam kehidupan di dunia ini.  

http://sudarwana-sakri.blogspot.com/2011/06/buat-umat-hindu-kaharingan-di-kal-teng.html